Teori Kepribadian Timur

Makalah Psikologi Kepribadian

TEORI KEPRIBADIAN ABHIDHAMMA

Abhidhamma telah berkembang 15 abad yang lalu, merupakan wawasan-wawasan dari budha Gautama. Buddhisme sendiri berkembang menjadi beberapa aliran yaitu Mahayana dan hinayana.

.   A.  UNSUR-UNSUR KEPRIBADIAN

            Dalam abhidhamma kata “kepribadian “ serupa dengan konsep atta atau diri (self) menurut konsep barat, menurut adbhidamma tidak ada diri yang bersifat kekal atau abadi , benar-benar kekal, yang ada hanyalah sekumpulan proses impersonal yang timbul dan menghilang, yang nampak sebagai kepribadian terbentuk dari perpaduan antara proses –proses impersonal ini, apa yang nampak sebagai diri tidak lain adalah bagian keseluruhan jumlah bagian-bagian tubuh yakni pikiran, penginderaan, hawa nafsu, dsb. Satu-satunya benang bersenimbungan atau bersambung –menyambung dalam jiwa adalah bhava yakni kesinambungan kesadaran diri waktu ke waktu.

Setiap momen yang berturut-turut dalam kesadaran manusia ,dibentuk oleh momen sebelumnya, dan pada gilirannya akan menentukan momen-momen yang berikutnya. Bhavalah yang menghubungkan momen kesadaran yang satu dengan momen kesadaran berikutnya, jadi semua proses kejiwaan manusia itu berkesinambungan.

            Menurut abhidahmma, bahwa kepribadian manusia itu sama seperti sungai memiliki bentuk yang tetap, seolah-olah satu identitas ,walaupun tidak setetes air pun tidak berubah seperti pada momen sebelumnya.dalam pandangan ini “ tidak ada aktor terlepas dari aksi, tidak ada orang yang mengamati terlepas dari persepsi ,tidak ada subjek sadar dibalik kesadaran” (dalam kata-kata Buddha ,samyutta –nikaya ,1972,135:hall,p.237”)

Yang menjadi fokus study psikologi abhidhamma adalah rangkaian peristiwa, yakni hubungan terus menerus antara keadaan-keadaan jiwa dan objek-objek indera misalnya perasaan bihari (keadaan jiwa) pada seorang wanita cantik (objek indera). Keadaan-keadaan jiwa itu selalu berubah dari momen ke momen dan perubahan itu ternyata sangat cepat. Metode dasar yang dipakai untuk meneliti perubahan yang sangat banyak dalam jiwa adalah intropeksi ,yakni suatu observasi teliti dan sistematik yang dilakukan oleh seseorang terhadap pengalamannya sendiri. Yang menjadi subjek psikologi abhidhamma adalah :

  1. Penginderaan dari panca indera
  2. Pikiran-pikiran yang dianggap sebagai indera keenam
  3. Setiap keadaan jiwa terdiri atas sekumpulan sifat-sifat jiwa yang disebut faktor-faktor jiwa, sifat-sifat jiwa misalnya cinta, benci, adil, bengis, social, dsb.

Abhidhamma menemukan 53 kategori faktor kejiwaan, yang lain menemukan 175 macam :

Prinsip-prinsip keadaan jiwa dapat dikemukakan sebagai berikut:

  1. Setiap keadaan jiwa hanya sebagian kecil kumpulan faktor yang hadir
  2. Kualitas-kualitas keadaan jiwa ditentukan oleh faktor-faktor mana yang digabungkan
  3. Abhidhamma yakin, bahwa setiap keadaan jiwa berasal dari pengaruh biologis dan pengaruh situasi ,disamping pemindahan pengaruh dari momen psikologis sebelumnya.
  4. Setiap keadaan jiwa pada gilirannya menentukan kombinasi khusus faktor-faktor dalam keadaan jiwa berikutnya.

Faktor-faktor jiwa berperan sebagai :

  1. Faktor-faktor sebagai kunci menuju karma (menurut istilah barat),karma menurut istilah pali, istilah teknis bagi abhidamma artinya karma adalah prisip bahwa setiap perbuatan dimotivasi oleh keadaan-keadaan jiwa yang melatarbelakangi.
  2. Menurut psikologi timur bahwa suatu tingkah laku pada hakikatnya secara moral ialah netral
  3. Sifat moral tingkah laku ditinjau dari motif-motif yang melatarbelakangi orang yang melakukan perbuatan itu
  4. Perbuatan seseorang memiliki campuran faktor-faktor jiwa negatif
  5. Dhammapada adalah kumpulan sajak yang dahulu diucapkan oleh budha Gautama ,mulai tentang ajaran karma dan kamma.
  6. Intinya: bahwa segala apa yang ada pada manusia adalah sebagai akibat yang pikirannya yakni berdasarkan pikirannya dan dibentuk oleh pikirannya juga

Jika orang bertindak atau berbicara dengan pikiran jahat maka pikiran sakit akan mengikutinya, sama seperti roda yang mengikuti lembu yang menariknya. sebaliknya , jika kita berbicara atau bertindak dengan pikiran murni ,maka kebahagiaan akan mengikutinya, sama seperti bayang-bayang yang tidak pernah meninggalkannya ( babbit,1965,p.3,hall,240).

  1. MACAM-MACAM FAKTOR JIWA

Mengenai faktor-faktor jiwa dapat dikelompokkan menjadi dua macam, yakni:

  1. Kusula : berarti murni, baik, sehat
  2. Akusula : berarti tidak murni, tidak baik, tidak sehat

Kebanyakan faktor jiwa perseptual, kognitif, dan afektif cocok untuk dimasukkan ke dalam kategori sehat atau tidak sehat. Penilaian tentang ”sehat” atau ”tidak sehat” dicapai secara empiris, berdasarkan pengalaman kolektif sejumlah besar petapa Buddhis pertama. Kriterium mengenai faktor jiwa sehat-tidak sehat adalah bahwa apakah suatu faktor jiwa khusus tertentu mempermudah atau mengganggu usaha mereka untuk mengheningkan jiwa dalam samadi (pertapaan). Dalam hal ini, faktor jiwa yang menganggu samadi disebut faktor jiwa tidak sehat. Sedangkan yang mempermudah jalannya untuk mengheningkan jiwa disebut faktor jiwa sehat.

Selain faktor-faktor jiwa sehat dan tidak sehat, terdapat juga tujuh sifat netral yang ada dalam setiap keadaan jiwa, yakni: 

  • Phasa : appersepsi, adalah kesadaran semata-mata ke suatu objek 
  • Sanna : persepsi, adalah pengenalan pertama bahwa kesadaran semata-mata pada suatu objek yang tersebut termasuk dalam salah satu indera. Misalnya: penglihatan, pendengaran, dan sebagainya. 
  • Cetana : kemauan, yakni reaksi terkondisi yang menyertai suatu objek
  • Vedana : perasaan, aneka penginderaan yang dibangkitkan oleh objek itu 
  • Ekaggata : keterarahan kepada suatu titik, yakni pemusatan kesadaran 
  • Manasikara : perhatian spontan, yakni pengarahan perhatian yang tidak disengaja karena daya tarik dari suatu objek 
  • Jivitindriya : energi psikis, yang memberi vitalitas dan mempersatukan keenam faktor jiwa lainnya. (Hall, p. 241).

Faktor-faktor tersebut diatas merupakan sejenis kerangka dasar kesadaran tempat tertanamnya faktor-faktor jiwa sehat dan tidak sehat. Namun kombinasi khusus faktor-faktor tersebut berbeda-beda dari momen ke momen.

  1. FAKTOR-FAKTOR JIWA TIDAK SEHAT

A).    Beberapa contoh faktor tidak sehatnya pada jiwa dari kelompok kognitif antara lain :

  1. 1. Moha : delusi, bersifat perseptual, sentral yakni kegelapan jiwa, penyebab persepsi salah pada objek kesadaran.
  2. Aditthi : pandangan salah, pemahaman tidak tepat karena pengaruh delusi, karena pandangan atau pemahaman salah maka semua yang tertuju menjadi tidak menyenangkan , misalnya pandangan diri sebagai yang tetap model barat, secara timur hal-hal tersebut adalah aditthi.
  3. 3. Vicikiccha : kebingungan, mencerminkan ketidak mampuan untuk menentukan atau membuat suatu keputusan yang tepat.
  4. Ahirika : sikap tidak tahu
  5. Anottapa : tanpa belas kasihan, bengis, kejam, sadis.
  6. Mana : egoisme, egoistis, mementingkan diri sendiri

B).   Sedangkan yang termasuk dalam kelompok afektif ialah :

  1. Uddhacca : keresahan , rasa tidak tentram

2           Kukkucca : kekhawatiran, yakni keadaan bingung, linglung, penyesalan

  1. Lobha : tamak, rakus, serakah
  2. Macchariya : kekikiran , pelit
  3. Issa : iri hati, menyebabkan keterikatan pada objek
  4. Dosa : kemuakan, merupakan sisi negatifnya dan selalu berhubungan dengan delusi
  5. Thina : kontraksi , pengerutan, kejang-kejang, gemetar
  6. Middha : kebekuan, sikap dingin .

Faktor-faktor tersebut penyebab jiwa menjadi kaku, tidak luwes, dan jika dominan maka orang menjadi lamban.

Faktor-faktor jiwa sehat bersifat polar dengan lawannya. Jalan tengah tidak ada. Prinsip polar tersebut dijadikan cara untuk membuat jiwa yang sehat, yakni mengganti faktor-faktor tidak sehat. Hal ini merupakan prinsip resiprokal yang menghambat timbal balik.

  1. FAKTOR JIWA SEHAT DARI KOGNITIF
  2. Panna : pemahaman, insight, lawan dari delusi, persepsi yang jelas. Panna dan moha tidak dapat hadir bersama .
  3. 2. Sati : sikap penuh perhatian, mind fulnness , pemahaman yang jelas dan kontinyu pada objek. Panna dan sati menyebabkan orang menjadi tenang selalu, dapat untuk menekan semua faktor tidak sehat
  4. Hiri : rendah hati , menghambat tidak tahu malu
  5. Ottappa : sikap penuh hati-hati , sikap tanpa penyesalan
  6. Cittujjukata : kejujuran, gandengan dari ottappa ( kejujuran )
  7. Saddaha : kepercayaan, yakni kepastian berdasarkan pada persepsi yang tepat, kombinasi dari hiri, ottapa , cittjjukata dan saddha.

  1. DINAMIKA KEPRIBADIAN

Dinamika kepribadian adalah gerak kepribadian yang terjelma dalam tingkah laku, baik yang nampak maupun tidak nampak dan terjadi karena interaksi antara faktor-faktor jiwa sehat dan tidak sehat. Jika terjadi dominasi dari faktor-faktor sehat atau tidak sehat tertentu, akan menghasilkan tipe-tipe kepribadian atau tingkah laku tertentu pada individu yang bersangkutan.

Beberapa contoh interaksi berbagai faktor jiwa dan bagaimana prilaku yang terjadi, atau menyebabkan sifat-sifat tingkah laku tertentu adalah sebagai berikut:

  • Kelompok faktor tidak sehat yang terdiri dari ketamakan, kekikiran, irihati, dan kemuakan dilawan oleh faktor-faktor ketidakterikatan (alobha), adosa (ketidakmuakan), tatramajjhata (tidak memihak), dan passadhi (sikap tenang), maka akan mencerminkan ketenangan fisik dan jiwa yang terjadi karena berkurangnya perasaan keterikatan.
  • Sikap-sikap alobha, adosa, tatramjjhata, dan passadhi menggantikan sikap rakus atau sebaliknya, sikap menolak, dengan sikap penuh perhatian terhadap apa saja yang mungkin timbul dalam kesadaran seseorang, yang menyebabkan timbulnya sikap menerima apa adanya.
  • Faktor-faktor sikap egois, irihati, kemuakan, menyebabkan orang haus atau mendambakan pekerjaan yang terpandang, tinggi dan mewah, atau iri hati terhadap orang lain yang mempunyai pekerjaan.
  • Sebaliknya, sikap-sikap tenang, bebas, ketidakmuakan, netral, menyebabkan orang mempertimbangkan keuntungan-keuntungan berupa upah dan prestasi dengan keinginan-keinginan seperti tekanan dan ketegangan yang lebih besar serta menilai secara adil. Sedangkan sikap netral memandang seluruh situasi dengan tenang.
  • Jika faktor-faktor kegembiraan (ahuta), luwes/fleksibel (muduta), dan kecakapan (paqunata) muncul pada prilaku, maka seseorang akan berpikir dan bertindak dengan leluasa dan mudah, mewujudkan ketrampilan-ketrampilannya secara maksimal.
  • Faktor tersebut menekan faktor-faktor kontraksi dan kebekuan yang tidak sehat itu, yang menguasai jiwa dalam keadan-keadaan tertentu seperti depresi. Dalam kehidupan sehari-hari, faktor sehat tersebut menyebabkan orang dapat menyesuaikan diri secara fisik dan psikis terhadap keadaan-keadaan yang senantiasa berubah serta dapat menghadapi tantangan-tantangan manapun yang mungkin timbul.
  1. PSIKODINAMIKA KEPRIBADIAN

Psikodinamika kepribadian dapat terjadi karena interaksi antara faktor-faktor jiwa dengan mekanisme sebagai berikut:

  • Faktor-faktor jiwa yang sehat dan tidak sehat saling menghambat
  • Tetapi tidak selalu terdapat hubungan satu lawan satu antara sepasang faktor-faktor sehat dan tidak sehat.
  • Kehadiran yang satu menekan faktor tandingannya.
  • Dalam beberapa hal satu faktor sehat akan menghambat sekumpulan faktor tidak sehat, misalnya, ketidakterikatan mampu secara sendirian menghambat ketamakan, kekikiran, irihati dan kemuakan.
  • Faktor-faktor kunci tertentu juga mampu menghambat sekumpulan faktor tandingan secara keseluruhan, misalnya jika terjadi delusi, maka tidak satupun faktor baik dapat timbul dan hadir secara bersamaan.
  • Karma seseoranglah sebagai penentu, apakah ia akan mengalami keadaan jiwa sehat atau keadaan jiwa tidak sehat.
  • Suatu kombinasi faktor merupakan hasil dari pengaruh-pengaruh biologis dan pengaruh-pengaruh situasi disamping juga merupakan pindahan pengaruh dari keadaan jiwa sebelumnya. Faktor-faktor tersebut biasanya timbul sebagai suatu kelompok, baik positif maupun negatif.
  • Dalam setiap keadaan jiwa tertentu, faktor yang membentuk keadaan jiwa tersebut muncul dengan kekuatan-kekuatan yang berbeda.
  • Faktor apa saja yang paling kuat, akan menentukan bagaimana seseorang mengalami dan bertindak dalam suatu momen tertentu
  • Meskipun mungkin semua faktor buruk hadir, namun keadaan yang dialami akan sangat berbeda, tergantung pada apakah misalnya ketamakan atau kebekuan yang mendominasi jiwa.
  • Hierarki kebutuhan dari faktor-faktor tersebut menentukan apakah keadaan spesifik itu akan menjadi positif atau negatif.
  • Jika faktor tertentu atau sekumpulan faktor seringkali muncul dalam keadaan jiwa seseorang, maka faktor tersebut akan menjadi sifat kepribadian.
  • Jumlah keseluruhan faktor-faktor jiwa yang sudah menjadi kebiasaan pada seseorang, menentukan sifat-sifat kepribadiannya.

Daftar sifat-sifat kepribadian menurut faktor-faktor jiwa sehat dan tidak sehat sebagai berikut :

  1. Perseptual (kognitif)
  2. Pemahaman (insight) : Delusi
  3. Sikap penuh perhatian : Pandangan yang salah
  4. Sikap rendah hati : Sikap tak tahu malu
  5. Sikap penuh hati-hati : kecerobohan
  6. Kepercayaan : Egois
  7. Afektif
  8. Ketenangan : keresahan
  9. Ketidak-terikatan : ketamakan
  10. Ketidak-muakan : kemuakan
  11. Kenetralan : Iri hati
  12. Kegembiraan : kekikiran
  13. Fleksibilitas : kekhawatiran
  14. Kemampuan adaptasi : pengerutan
  15. Kecakapan : kebekuan
  16. Kejujuran : kebingungan.

  1. TIPE-TIPE KEPRIBADIAN

Mengenai bagaimana timbunya beberapa tipe kepribadian menurut ajaran Abhidhamma adalah sebagai berikut:

  1. Bahwa tipe-tipe kepribadian menurut Abhidhamma, secara langsung diturunkan dari prinsip bahwa faktor-faktor jiwa muncul dalam kekuatan yang berbeda-beda.
  2. Motif pada manusia berasal dari analisis mengenai faktor-faktor jiwa dan pengaruh fakor-faktor tersebut pada tingkah laku. Motif itu menentukan keadaan jiwa seseorang untuk mencari sesuatu atau menjauhinya.
  3. Buku Visuddhimagga (Buddhaghosa, 1976), merupakan pedoman untuk meditasi sesuai dengan ajaran Abhidhamma abad kelima Masehi.

Tipe-tipe manusia menurut Visudhimagga antara ain ialah:

  1. Tipe orang suka kenikmatan: berpenampilan menarik, sopan dan menjawab dengan hormat jika disapa. Mereka melakukan tugas-tugas mereka dengan seni, rapi, sangat berhati-hati. Jika melihat objek yang menyenangkan, mereka akan berhati-hati untuk mengaguminya, terpesona oleh tindakan, dan tidak memperhatikan kekurangannya. Jika mereka meninggalkan objek yang yang indah dengan rasa sesal.
  2. Tipe orang pembenci: berdiri dengan kaku, tempat tidur dibereskan dengan serampangan dan tergesa-gesa, berdiri dengan tegang, dan marah jika dibangunkan. Jika bekerja, mereka kasar dan sembrono, jika menyapu berbunyi keras dan gaduh. Berpakaian ketat dan tidak rapi. Senang pada makanan pedas dan asam, makan tergesa-gesa dan tidak memperhatikan cita rasa, tidak suka makanan hambar. Mereka tidak tertarik pada objek-objek yang indah, memperhatikan kekurangan sampai yang kecil-kecil, sementara mengabaikan kebaikan-kebaikannnya, sering marah, penuh kebencian, kejam, mudah iri hati dan kikir.

  1. Tipe orang delusi, dapat dideskripsikan sebagai berikut :
  2. Pakaiannya compang-camping, benangnya berselawiran, kasar seperti rami,berat dan tidak enak dipakai.
  3. Mangkuknya dari tanah liat yang buruk atau mangkuk logam yang berat, bentuknya tidak serasi, memuakkan,tidak rata, tidak ada di desa sekitarnya.
  4. Desa yang cocok adalah desa yang tidak teratur, orangnya lalu-lalang seolah-olah tidak melihatnya.
  5. Orang yang menyalaminya adalah orang-orang yang kasar, kotor, tak sedap dipandang mata, makanan kotor, berbau dan menjijikkan.
  6. Makannya bubur yang telah hancur, dadih basi (langit-langit susu), bubur yang asam, kari dari sayuran tua-tua, atau apa saja asal dapat mengisi perut. Mengisi mulut sepenuh-penuhnya, ceroboh, mengotori muka (dalam bahasa jawa gabres).
  7. Cara berdiri seenaknya, suka tidur terlentang, bangun lamban, suka menggerutu, banyak keluh kesah, tempat tidur tidak rapi.
  8. Sebagai pekerja mereka tidak terampil, jorok, mereka menyapu dengan kaku dan serampangan, tidak bersih.
  9. Mereka tidak mempunyai ide baik atau jelek pada benda, percaya saja apa yang dikatakan oleh orang lain, lalu turut memuja atau mencelanya.
  10. Sering berkelakuan malas, kaku, kacau, mudah menyerah, dan bingung, dapat juga keras kepala dan bandel.

Tujuannya untuk melatih mengalahkan gejala- gejala psikologis yang dominan dengan demikian menjadikan jiwa mereka seimbang, sehingga dapat disebut manusia yang harmonis.

Sebaliknya, kondisi-kondisi untuk tipe orang penuh kebencian, semuanya dibuat serba seenak dan semudah mungkin. Bagi tipe delusi, segala sesuatunya harus dibuat sederhana dan jelas, menyenangkan serta enak, seperti kondisi untuk tipe penuh kebencian.

  1. KEPRIBADIAN SEHAT DAN GANGGUAN JIWA

Definisi operasional Kepribadian dapat dirumuskan sebagai berikut :

  1. Pribadi sehat : Tidak ada faktor-faktor tidak sehat atau selalu ada faktor sehat.
  2. Jiwa terganggu : Ada faktor jiwa tidak sehat. Gangguan jiwa timbul karena faktor tidak sehat menguasai kejiwaan seseorang.
  3. Kriterium untuk kesehatan jiwa : Adanya faktor-faktor yang sehat dan ketiadaan faktor-faktor yang tidak sehat dalam sistem pengelolaan sumber daya psikologis seseorang.

Beberapa contoh faktor sehat :

  1. Karuna : Kebaikan hati yang penuh kasih.
  2. Mudita : merasakan nikmat dalam kebahagiaan orang lain.
  3. Dalam kitab suci Buddha ada disebut oleh Buddha : “ semua orang yang tertarik hal-hal duniawi adalah gila”.
  4. Annusaya : kecenderungan-kecenderungan laten dari jiwa mengarah ke keadaan-keadaan jiwa tidak sehat.
  5. Meditasi : Sarana menuju Kepribadian Sehat.

  1. MENGEMBANGKAN KESEHATAN JIWA DAN KEPRIBADIAN

Setelah orang mengetahui faktor-faktor jiwa sehat dan tidak sehat maka dapat merasakan sendiri. Strategi untuk mencapai keadaan-keadaan jiwa sehat buka berupa usaha langsung mencari ataupun menunjukan sikap muak terhadap keadaan-keadaan tidak sehat. Pedekatan yang dianjurkan adalah melakukan meditasi atau samadi.

            Kegiatan meditasi ada dua cara, yaitu meditasi dengan terkonsentrasikan dan metode meditasi dengan sikap netral terhadap apa saja yang muncul dan hilang dalam arus kesadaran. Metode pertama disebut metode konsentrasi dan metode kedua disebut metode dengan sikap penuh perhatian.

1). Meditasi Dengan Konsentrasi

Metode meditasi dengan konsentrasi adalah seserorang yang melakukan meditasi (meditator) berusaha untk mengarahkan perhatian kepada hanya satu objek atau satu titik pusat. Selama mengembangka meditasi, meditator berusaha melampaui apa yang biasanya kita anggap sebagai batas- batas normal untuk mempertahankan hanya satu objek dalam kesadaran. Semakin mendalam konsentrasi, maka jiwa meditator makin stabil, dan faktor-faktor tidak sehat dapat ditekan.

Faktor –faktor yang mempercepat konsentrasi adalah :

  1. Vicara dan Vitakka : artinya perhatian yang diterapkan dan dipertahankan, memusatkan perhatian hanya pada satu objek secara terus menerus.
  2. Piti : perasaan perasaan terpesona
  3. Virinya : energi, tenaga
  4. Uphekka : ketenangan hati

Tingkatan samadi melalui dua cara, yaitu :

  1. Konsentrasi : pada tingkatan ini membangun ketenangan hati. Yang disebut konsentrasi adalah sebagai “jalan masuk”, keadaan faktor-faktor ini akan berfluktuasi. Dengan konsentrasi terus menerus pada satu objek, fluktuasi akan berubah menjadi stabilitas.
  2. Jhana : keadaan diluar kesadaran. Dalam beberapa tradisi Budha dan Hindu disebut samadi. Dalam jhana persepsi-persepsi dan pikiran-pikiran normal berhenti sama sekali.

2). Jalan Menuju Perubahan Kepibadian

Pada metode meditasi dengan sikap penuh perhatian, meditator tidak perlu mengatur arus kesadaran. Dengan metode ini, meditator berusaha mancapai kesadaran penuh kepada setiap dan semua isi jiwa. Meditator tidak membiarkan perhatiannya terpusat pada pikiran atau perasaan tertentu, tetapi berusaha mempertahankan sikap menjadi “saksi” yang netral terhadap semua itu.

Dalam samadi dengan penuh perhatian, terdapat tiga tingkat, ialah :

  1. Tahap Vipassana

Dimana sikap penuh perhatian begitu kuat, sampai membentuk kesinambungan dan masuk pada tahap kedua dalam proses meditasi yang disebut tahap pemahaman (insight) atau vipassana. Datangnya vipassana ditandai dengan persepsi yang semakin halus dan semakin tepat pada semua macam kegiatan kejiwaan. Meditator menyadari bahwa jiwanya terus-menerus berubah. Jiwa yang selalu berubah dan impersonal ini menyebabkan orang ingin melarikan diri. Akhirnya vipassana atau insight mencapai puncaknya disebut dengan nibbhana, jika semua proses kejiwaan berhenti secara total disebut dengan nirvanik yang bersifat nirvana.

  1. Tahap Nirvana

Dalam tahap nirvana tidak mengalami kebahagiaan dan ketenangan hati. Nirvana adalah keadaan yang lebih hampa dari pada jhana. Dalam abhidhamma bahwa tahap nirvana mengubah keadaan jiwa seseorang secara radikal dan kekal. Dengan melaksanakan samadi dengan penuh perhatian menuju vipassana (insight) atau pemahaman terus masuk ke nirvana adalah jalan menuju kepribadian yang sehat. Meskipun nirvana merupakan suatu langkah kunci, namun bukan merupakan akhir dari jalan Abhidhamma. Jika jalan jhana mempunyai pengaruh bagi kepribadian seseorang maka pengaruh nirvana tidak terusik lagi.

  1. Tahap Arahat

Tingkat arahat adalah tingkat ideal kepribadian sehat. Arahat merupakan hakikat dari kesehatan jiwa dan kepribadian manusia menurut Abhidhamma. Sifat-sifat kepribadian seorang arahat diubah secara permanen atau tetap. Bahwa semua motif, persepsi, atau perbuatan yang dibawah pengaruh faktor tidak sehat akan lenyap. Artinya semua motif, persepsi dan perbuatan orang arahat di bawah pengaruh faktor jiwa yang sehat.

I.TENTANG MIMPI

Abhidhamma mengatakan bahwa mimpi adalah sifat istimewa lain dari aharat. Ada empat macam tipe mimpi pada manusia, yakni:

  1. Tipe pertama, mimpi yang disebabkan oleh sejenis gangguan pada organ atau otot, dan biasanya menyangkut suatu persaan fisik yang menakutkan, misalnya jatuh, terbang, atau dikejar-kejar harimau. Bermacam-macam mimpi buruk termasuk tipe mimpi ini.
  2. Tipe kedua, mimpi yang ada hubungannya dengan kegiatan-kegiatan yang dilakukan orang pada siang harinya, dan menggemakan pengalaman-pengalaman yang sudah berlalau tersebut. Mimpi semacam ini kerap terjadi.
  3. Tipe ketiga, mimpi tentang suatu peristiwa aktual sebagai mana peristiwa itu terjadi, mirip dengan prinsip sinkronitas pada pendapat C.G.Jung.
  4. Tipe keempat, mimpi yang bersifat waskita (clairvoyant), suatu ramalan yang tepat tentang peristiwa-peristiwa yang akan terjadi. Jika seorang arahat bermimpi maka mimpinya itu selalu bersifat waskita (Van Aung, 1972).

BAB III

PENUTUP

KESIMPULAN

Abhidhamma telah berkembang 15 abad yang lalu, merupakan wawasan-wawasan dari budha Gautama. Buddhisme sendiri berkembang menjadi beberapa aliran yaitu Mahayana dan hinayana.

“kepribadian” abhidhamma serupa dengan konsep atta atau diri (self) menurut adbhidamma hanyalah sekumpulan proses impersonal yang timbul dan menghilang, yang terbentuk dari perpaduan antara proses –proses impersonal yakni pikiran, penginderaan, hawa nafsu, dsb.

Jiwa berperan sbahwa segala apa yang ada pada manusia adalah sebagai akibat yang pikirannya yakni berdasarkan pikirannya dan dibentuk oleh pikirannya juga

Terdapat tujuh sifat netral yang ada pada setiap keadaan jiwa yang merupakan kerangka dasar kesadaran tempat tertanamnya faktor-faktor jiwa sehat dan tidak sehat. Namun kombinasi khusus faktor-faktor tersebut berbeda-beda dari momen ke momen.

Dinamika kepribadian adalah gerak kepribadian yang terjelma dalam tingkah laku, baik yang nampak maupun tidak nampak dan terjadi karena interaksi antara faktor-faktor jiwa sehat dan tidak sehat. Psikodinamika kepribadian dapat terjadi karena interaksi antara faktor-faktor jiwa dengan mekanisme.

Strategi untuk mencapai keadaan-keadaan jiwa sehat dengan Pedekatan yang dianjurkan adalah melakukan meditasi atau samadi.

DAFTAR PUSTAKA

http://www.psychologymania.com/2011/09/psikologi-timur.html

http://tekatika.blogspot.com/2012/04/kepribadian-timur-abhidamma.html

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

+ 7 = 17